BANTEN MOBIL CLUB

BANTEN MOBIL CLUB
BMC

Selasa, 19 Februari 2013

Buku Golok Ciomas: Hikayat dan Keistimewaannya

Buku Golok Ciomas: Hikayat dan Keistimewaannya

Golok Ciomas adalah salah satu jenis senjata khas Banten, yang hingga kini prosesi pembuatannya masih dilakukan secara turun temurun. Golok Ciomas selama ini sudah dikenal secara luas tidak saja dilingkungan Banten, melainkan juga diseantero nusantara. Bahkan ke mancanegara. Banyak yang mengenal Golok Ciomas seperti halnya Debus yang sudah identik dengan Banten. Popularitas Golok Ciomas memang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari nama Banten. Sebab, kalau merujuk pada riwayat yang berkembang dimasyarakat, menunjukan bahwa munculnya Golok Ciomas ada pakuat pakaitna (keterkaitan) dengan perkembangan Kesulatanan Banten itu sendiri. Golok adalah sejenis senjata yang banyak digunakan pada masa lalu, termasuk ketika melawan penjajah.
Golok, umumnya difungsikan sebagai senjata yang dipakai untuk membela diri atau untuk keperluan darurat saja. Golok tidak digunakan dalam menebang pohon atau keperluan dirumah. Dijaman perjuangan atau jaman penjajahan, Golok banyak digunakan sebagai senjata untuk melawan penjajah. Para pendekar- didaerah Banten dan sekitarnya juga dikenal sebagai Jawara- biasanya memiliki senjata utama berupa Golok. Dalam cerita dan komik- komik tentang pendekar, terungkap bahwa Golok adalah bagian yang tidak terpisahkan. Mereka biasanya memberi nama khusus terhadap Golok yang dimiliki para pendekar. Nama itu biasanya menunjukan keistimwaannya.
Ciomas, sebuah tempat yang berjarak sekitar 20 Km selatan Kota Serang, Banten, dikenal memiliki sebuah tradisi pembuatan Golok yang khusus. Produknya dikenal dengan nama Golok Ciomas, yang dikenal memiliki banyak keistimewaan. Sejak dulu Golok Ciomas dikenal memiliki “isi” yang tidak sembarangan. Dalam istilah masyarakat, ada perkataan, “lain Golok sembarang Golok, ieu mah Golok Ciomas” (bukan Golok sembarang Golok, ini Golok Ciomas).
Sama halnya dengan Kris di Jawa, Golok Ciomas diyakini memiliki nilai mistis. Banyak yang mempercayai bahwa Golok Ciomas sangat ampuh untuk “menaklukan” musuh. Tapi pengertian “menaklukan” tidak berarti Golok itu digunakan untuk menyakiti fisik musuh. Bahkan kadang musuh bisa “ditaklukan” tanpa harus mengeluarkan Golok dari serangka-nya.
Kedatangan orang yang memiliki Golok Ciomas ketempat yang tengah terjadi perselisihan, konon bisa meredakan perselisihan itu. Golok Ciomas juga bisa meredakan suasana hati yang panas, kemarahan, kejengkelan, dan amarah lainnya. Bahkan, dengan nada sedikit bergurau, ada juga yang berbisik soal keistimewaannya: “Nu rek nagih hutang ge kalah ka teu jadi” (yang mau menagih hutang saja bisa tidak jadi).
Ada juga keistimewaan dari segi fungsi. Konon, karena dibuat secara khusus, kulit yang terluka oleh Golok Ciomas, sedikit saja, akan sukar sekali sembuh. Bahkan kalau disayatkan ke pohon pisang muda, pohon itu akan membusuk dan mati.
Padahal pohon pisang, selain karena penyakit, biasanya tidak akan mati sebelum berbuah. Sehingga dikenal falsafah pisang yang menyebut pohon itu tidak mati sebelum memberi arti bagi kehidupan lainnya. Ditebang berkali- kali dengan Golok biasa, pohon pisang akan hidup dan muncul pucuk baru. Begitu seterusnya, sampai ia berbuah. Setelah berbuah pasti akan mati.
Lain halnya apabila terkena Golok Ciomas, jangankan ditebang, tersayat saja akan menyebabkan ia mati dan membusuk. Seolah Golok itu memiliki racun yang maha dahsyat, yang merupakan buatan mpu yang sakti yang juga seorang ahli metalurgi yang mumpuni. Tak ubahnya kisah dibuku- buku cerita masa silam. Keyakinan itu berkembang begitu luas dimasyarakat. Adapun kebenarannya, wallahualambishawab.
Salah seorang pemilik Golok Ciomas pernah menceritakan ketika ia bertandang kesebuah daerah di Jawa Tengah. Mereka-pun terlibat dalam pembicaraan yang seru soal Kris. Yang dikunjungi ternyata memiliki Kris yang “berisi”. Kris itu ternyata mampu berdiri dengan ujung runcingnya. Kalau melihat fisik Golok, mustahil Golok Ciomas mampu tampil berdiri dengan ujungnya. Sebab berbeda dengan Kris, secara vertikal, Golok pasti tidak seimbang. Namun apa yang terjadi, ternyata Golok itu bisa berdiri menyesuaikan diri dengan titik tumpunya. Persis seperti yang dilakukan terhadap Kris, Golok Ciomas-pun bisa.
Suatu ketika, dibulan Maulud seseorang datang ke Ciomas dengan niat mau menyerahkan sebuah Golok. Katanya, ia mendapat wangsit, salah seorang keluarganya akan sembuh dari sakitnya apabila ia menyerahkan Golok yang dimiliki keluarganya ke seseorang di Ciomas. Seorang anggota keluarganya memang telah lama mengidap penyakit yang aneh. Maka ia-pun berkeliling Ciomas.
Setelah ditelusuri, ternyata seseorang di Ciomas menyampaikan bahwa golok peninggalan keluarganya telah lenyap sejak lama, dan ia mengharapkan kembalinya Golok itu. Ia sampaikan lengkap dengan ciri- cirinya. Akhirnya, si pemegang Golok-pun tidak ragu menyerahkan Golok itu padanya. Tak lama kemudian keluarganya yang sakitpun sembuh.
Ada pula seseorang yang begitu perhatiannya terhadap Golok Ciomas. Dia pelajari betul detail- detail Golok Ciomas. Sampai- sampai dari bobotnya, ia bisa menentukan mana Golok Ciomas yang asli dan mana yang bukan. Salah satu caranya adalah dengan menimbang tengah Golok yang diangkat secara horizontal. Konon, pada titik tengahnya akan tercapai keseimbangan.
Masih banyak sekali cerita tentang Golok Ciomas. Ada kisah yang bersumber pada fisik Golok, Ada pula yang kental sekali unsur mistisnya. Tapi banyak alasan sehingga Golok Ciomas hingga kini banyak dimiliki oleh berbagai kalangan. Dari kalangan pengusaha hingga pejabat. Sebagian besar menyimpannya sebagai koleksi dan tanda mata dari daerah Banten. Banyak pejabat yang ketika datang ke Banten, pulang membawa cendera mata berupa Golok Ciomas. Yang memiliki kebanyakan lebih suka menyimpannyan sebagai barang koleksi yang punya nilai religius tinggi.
Ingin tahu lebih jelas tentang Golok Ciomas? Silahkan baca buku Golok Ciomas: Hikayat dan Keistimewaannya

Mau Tahu Tentang Banten?

Mau Tahu Tentang Banten?

Baca buku “HABIS GELAP TERBITKAH TERANG?” Sebuah buku yang berisi refleksi atas kehidupan politik, pemerintahan, dan pembangunan di Provinsi Banten sejak menjadi provinsi pada tahun 200 hingga saat ini.

Berikut adalah sejumlah testimoni tokoh tentang buku ini:
Buku ini menggambarkan kegelisahan seorang intelektual muda dalam melihat realitas kehidupan sosial dan politik masyarakatnya. Ketajaman analisis yang mengagumkan, yang coba ditawarkan kepada masyarakat sebagai penyempurna dari tugas utamanya sebagai seorang akademisi: mendidik, meneliti, dan mengabdi pada masyarakatnya.” (Prof. Dr. Ir. Rahman Abdullah, M.Sc., Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa)
Penulis buku ini tak diragukan lebih Banten dari orang Banten. Pemahamannya yang luar biasa terhadap problem sosial dan politik masyarakat Banten dituangkannya secara obyektif, reflektif, dan jujur. Karenanya buku ini harus menjadi bacaan wajib bagi seluruh masyarakat Banten yang ingin melihat wajahnya saat ini sekaligus menatap wajahnya di masa depan(H. Wahidin Halim, Walikota Tangerang)
Buku ini sangat cermat dalam memotret geliat politik, pemerintahan, dan pembangunan di Provinsi Banten. Memang demikianlah adanya, tidak dilebih-lebihkan juga tidak dikurang-kurangi. Isi buku ini sebenarnya menawarkan otokritik. Karenanya, buku ini bisa menjadi obat mujarab yang bisa menyehatkan demokrasi kita, karena demokrasi memang senantiasa membuka ruang terciptanya check & balances. Memang pahit rasanya, namun tetap harus ditelan agar kekuasaan tidak menjadi absolut, dan kedaulatan rakyat benar-benar menjadi nyata dalam prakteknya.” (H. Iman Aryadi, Walikota Cilegon)
Wajah Provinsi Banten tidak banyak jauh berubah dengan ketika ia belum terbentuk menjadi Provinsi, atau bahkan jauh sebelumnya. Karenanya, ‘keberanian’ penulis buku ini patut diapresiasi, karena mungkin dengan cara membicarakan Banten dengan cara biasa, dikonsumsi sehari-hari juga dengan cara biasa, maka setiap warga Banten dapat memahami masalahnya sendiri. Dan bilamana ini terjadi, mungkin pada akhirnya mereka mau berubah. (Taufiequrahman Ruki, Anggota BPK RI)

Selasa, 27 Maret 2012

SENI SILAT TTKKDH PROVINSI BANTEN





 
Dahulu adanya bela diri untuk bertempur dan bertahan dari serangan lawan penjajah, sehingga mereka yang terlatih dalam pertempuran, tidak akan menjadi emosi. Siapapun yang terlatih untuk menang, tidak akan menjadi takut, Dengan demikian, orang bijak akan menang sebelum bertanding
Bedanya dahulu dengan sekarang, jika awal pembentukannya Kesenian Tari Indonesia (Kesti) Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir (TTKKDH) tahun 1900-an sengaja melatih anggotanya untuk mempelajari kelid (jurus) silat demi mempertahankan kesatuan Republik Indonesia, saat ini masanya sudah berbeda, anggota TTKKDH hanya sebuah seni beladiri yang dibalut dengan keindahan dan ke elokan kelid-kelidnya.
Pencak silat sebagai Seni, Olahraga serta Prestasi hal tersebut lebih besar didengungkan oleh pengurus TTKKDH mulai tingkat Pusat yang bermarkas di Provinsi Banten hingga 15 cabang pengurus provinsinya se-Indobesia dan manca negara. Demikianlah tuturan Guru/Pelatih TTKKDH Pusat, Edi Darof saat ditemu Tangerang Tribun disela melatih anggota TTKDH di Baros, Kab Serang Kamis (11/9) lalu.
Tentang pembinaan mental serta filosofi yang dikedepankan dalam Kesti TTKKDH ini, Edi menuturkan, seni beladiri ini hanya untuk mempererat tali persaudaraan, silaturahmi dan mengajarkan manusia bagaimana bisa terbuka dan menerima kehidupan ini dengan segala kemungkinannya.
"Sebelum masuk perguruan ini, calon anggota disyaratkan membaca Talek (ikrar), Rujakan (memakan dan meminum berbagai makanan manis dan pahit, serta Urutan Cimande yang mana dilakukan hal tersebut untuk memperlues dan memberi kekuatan tubuh," terangnya.
Tak heran makanya, jika dilihat dari sejarahnya, TTKKDH ini merupakan organisasi persilatan yang mengakar di tanah Banten dan Pasundan dimana kini fungsinya untuk mengingatkan bahwa Pencak Silat adalah sebuah warisan seni budaya asli Indonesia yang mempunyai keunikan sendiri.
Menurut Ketua Kesti TTKKDH Provonsi Banten, H.Hery Heryana, pancak silat sebenarnya memiliki jatidiri sebagai sistem pertarungan yang handal. "Namun buka itu yang ditekankan dalam TTKKDH, Selain Sebagai Pencak Silat untuk mempertahankan diri, TTKKDH merupakan satu kesatuan dengan seni yang memiliki kelengkapan atraktif," urainya yang juga menyatakan bahwa dalam mempelajari kesenian pancak silat Cimande ini murut tidak dapat mempraktekknya sendiri, namun harus ber-fatner yang artinya, Silat Cimande ini hanya dapat dipelajari dengan kebersamaan.
Tengok saja misalnya "Kelid Tapak Dua", untuk mempelajari jurus yang satu ini harus satu lawan satu. Dan banyak lagi jurus lainnya seperti, Ibing, Pelered, Cikalongan dan Golempangan. "Untuk menyempurnakan mempelajari Seni Silat Cimande ini, masing-masing murid haru menguasai 21 kelid (jurus) yang dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah jurusnya," paparnya lagi.
Kini, lanjut H.Hery, seluruh jenis seni tari yang diajarkan di dalam TTKKDH seperti Ibungan, Pelered dan Cikalongan kerap dibawakan sebagai salah satu upacara sambutan dalam even-even besar kedaerahan bahkan kenegaraan. "Tidak jarang dalam setia pertemuan besar, para anggota membawakan Seni Silat TTKKDH sebagai pembuka dan tarian pembuka menyambut tamu yang datang," ujarnya.
Sebagai milik khas masyarakat Banten, Seni Silat TTKKDH ini pantas berbangga diri, selain telah tersebar di 15 provinsi se-Indonesia seperti, Lampung, Jakarta, Medan, Palembang, jawa Barat, Kalimantan Timur bahkan sampai Papua, TTKDH juga telah menyebar hingga ke manca negara seperti Singapura, Australia dan Belanda.
"Yang mambuat Seni Silat Cimande ini digemari dan disanangi oleh masyarakat dan anggotanya adalah perbedaan dalam setiap gerakan dan jurus-jurusnya. Jadi tak heran jika penyebarannya begitu luas, kendati asalnya dari Bogor, namun Banten dikenal sebagai pencetus organisasinya dan penggerak penyebarannya," terang H.Hery yang juga putra Sesepuh Kesti TTKKDH,
Lebih jauh H,Hery mengungkapkan sesuatunya tentang TTKKDH. Ada lagi yang menarik dari Seni Silat Cimande ini, kata Dia. sebelum menjadi anggota ada beberapa ritual yang harus dilalui oleh para anggotanya. Pertama, mereka diharuskan mengucapkan "Talek" atau sumpah dimana salah satu poin yangtertuang dalam Talek tersebut adalah dua kalimat syahadat, selain itu para anggota ini juga diikrar untuk tidak menyakiti orang lain jika tidak disakiti.
"Para murid atau anggota kita hanya mempelajari ini untuk mempertahankan diri dari ketidak baikan dan keburukan perlakukan orang lain terhadapnya. Sehingga apapun yang terjadi, larangan keras menggunakan jurus Cimande untuk menyerang orang yang bertindak tidak baik tersebut kecuali dalam keadaan terdesak," katanya. Hal tersebut mendakan, TTKKDH juga disarankan terus membawa kedamaian dimanapun ia berada.
Selain Talek lanjutnya, para anggota juga diharuskan melakukan "Rujakan" sebelum mempelajari Seni Silat Cimande. Rujakan yang dimaksud, H.Hery menjelaskan, para anggota ini diharuskan melalui ritual berupa meminum kopi pahit, kopi manis, teh pahit dan teh pahit, Sulasih, Gedang Muci Emas (pisang mas), Dugan Hijau (kelapa muda), Rokok 7 Warna, Kue 7 Warna, menyediakan Kembang 7 Warna dan memakan Ayam Jantan (jago).
"Hal ini untuk mengajarkan para murid agar mawas diri dalam kehidupan, dimana dalam kehidupan ini mereka akan dihadapkan dengan yang manis dan yang pahit serta beraneka ragam permasalahan. Dengan melakukan ritual tersebut diharapkan para murid ini siap menjalani hidup duniawi dan dapat menyelesaikan permasalahan yang daihadapinya," urai H.Hery memaknai ritual di atas seraya menandaskan bahwa semua yang diajarkan dalam seni TTKKDH adalah kebijaksanaan-kebijaksanaan hidup dan bagaimana menjalana hidup yang harus mawas diri dan bersilaturahmi dengan sesama orang yang bisa jadi berbeda pandangan dan keyakinan. "Dan perlu diingat Seni Pancak Silat TTKKDH bukanlah untuk Jago-jagoan,"